Berbeda dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang rela membantu memasak untuk menebus kesalahannya. Itu dilakukan Ali saat berkunjung ke sebuah rumah yang dihuni seorang janda dengan dua anak. “Tampaknya tidak ada seorang pun lelaki yang membantu. Sekiranya ada, tentu dialah yang menggantikan engkau mengambil air. Kenapakah engkau sampai begini?”
“Suamiku adalah seorang tentara. Dia telah dikirim oleh Ali bin Abi Thalib ke daerah perbatasan. Namun, dia terbunuh di sana,” kata wanita itu.
Ali tentu saja terhenyak. Hari berikutnya, ia datang lagi ke rumah wanita itu, membawa daging, tepung terigu dan kurma. “Semoga Allah meridhaimu dan mengadili antara kami dengan Ali bin Abi Talib,” ujar wanita itu lagi.
Ali kemudian minta izin memasak beberapa potong daging yang ia bawa, dan ia hidangkan kepada anak-anak itu dengan sedikit kurma. Anak-anak itu dia suapi seraya berkata kepada mereka: “Maafkan Ali bin Abi Thalib, kalau dia telah menyia-nyiakan hakmu.”
Ali pun tak menolak ketika disuruh sang perempuan menyalakan tungku api. Api menyala, panasnya menyentuh kulit. “Rasakan panas api. Inilah balasan bagi orang yang lalai terhadap hak-hak para janda dan anak-anak yatim,” ujar Ali dalam hati.
Akhirnya, ada seorang tetanga, masuk ke rumah itu, dan mengenali Ali.
Seketika itu juga, sang janda menghampiri al-imam, memohon maaf. “Tidak, jangan kau meminta maaf. Justru akulah yang meminta maaf kepadamu, karena akulah yang telah menyia-nyiakanmu.”